Selasa, 31 Mei 2016

SENDANG DUWUR PACIRAN LAMONGAN

Satu lagi tempat bersejarah di kota lamongan yang harus kamu kunjungi...
temanya jalan-jalan edukasi ngintip peradaban islam di kota lamongan

SENDANG DUWUR PACIRAN LAMONGAN


          Makam sunan duwur atau raden rahmat ini banyak dikunjungi peziarah, selain dikenal dengan keramatnya makam beliau juga memiliki seni yang bernilai tinggi yang terletak pada ukiran-ukiran kayu jati dinding penyangga cungkup makam beliau. Makam sunan duwur ini terletak di belakang masjid yang berlokasi di atas perbukitan yang sangat strategis di desa sendang duwur kecamatan paciran, lamongan. Dari jalan raya utama masuk kira-kira 1,5km dengan melewati perbukitan kapur. Makam sunan duwur ini memiliki khas dan keunikan tersendiri yaitu makam beliau berada dalam kawasan bangunan yang seperti candi langkap yang dilengkapi gapura dan aneka ornamenya. Uniknya gapura tersebut bersayap dan menyerupai sayap garuda yang bentuknya khas dan mungkin tidak ada duanya .


        Makam raden rachmat ini memiliki gerbang yang dikenal dengan sebutan gapura bentar ( pada bagian sisi tengah) , sedangkan sisi kanan dan kiri gapura ini terdapat kubangan air yang cukup dalam, konon kubangan tersebut digunakan sebagai tempat berwudhu’ sebelum sholat Konon menurut cerita   setelah   Raden   Nur   Rachmat diberi   gelar  Sunan  Sendang  Duwur   oleh   Sunan    Drajat   dan diperintahkan   untuk   pergi   ke  desa Mantingan   (Jawa Tengah)  untuk  membeli  Masjid   Mbok  Rondo  Mantingan  dengan  membawa  uang  sejuta  salebak  keteng.  namun ketika   Sunan   Sendang  sudah sampai    di    Mantingan,    Mbok    Rondo Mantingan   mengatakan  bahwa  masjidnya  tidak  dijual.  Kemudian Sunan Sendang pulang dengan hati sedih. Dan Akhirnya Sunan Sendang  bersemedi   di  puncak  Gunung    Pamerangan.   Pada   waktu   beliau bersemedi   didatangi   oleh  Sunan  Kalijogo  dan  dibangunkan  dari semedinya, beliau disuruh kembali ke Mantingan, Selanjutnya Mbok   Rondo  Mantingan  tidak  keberatan memberikan  masjidnya  dengan  syarat  harus  dibawa  sendiri  dari  Mantingan tanpa bantuan orang lain.   Karena   kesaktiannya   maka   masjid  tersebut dibawa  terbang dengan bantuan katak ( Legenda Tanjung Kodok ).








Tidak ada komentar:

Posting Komentar